
Menunggu tak membosankan
Katanya, menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan. Kata aku, gak juga sih. Ini ada kisah yang terjadi kemarin lalu, ketika aku menunggu di sebuah ruang tunggu praktek dokter. Ada beberapa orang di sana, sekitar 8– 9 orang. Ada yang duduk sendiri sambil membaca majalah. Ada yang ngobrol setengah berbisik, sepertinya mereka adalah ibu dan anak gadis remajanya. Ada yang pria muda yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya, entah SMS entah sedang facebook, aku tidak bisa melihat karena duduknya agak jauh. Tetapi tepat di depan saya, seorang wanita muda, usia kira-kira 18an. Cantik, putih, mulus, betisnya pun bagus (uuuhh… ini mata ya…!!!)heheheh. Sekilas, saya menilai wanita muda ini tak sopan karena bicara sendiri dengan nada yang cukup keras, padahal dia sendirian. Lawan bicaranya adalah seseorang, entah siapa, di ujung sana, karena dia bicara dengan handsed yang tersambung di handphonenya.
Dari pada bengong, aku memutuskan iseng, mendengarkan obrolan wanita cantik berbaju sekolah smk, itu. Salahnya bicara kenceng-kenceng, berapi-api pula. Dan ternyata, keisengan aku menjadi hal yang sangat menarik karena si wanita cantik itu tak bicara gossip, tapi lebih dari itu. Dahsyat ceritanya. Begini teman-teman.
“Eh, kamu khan tau guru aku itu keturunan bule Amerika. Dia yang bilang kalo Indonesia itu lebih hebat dari Amerika. Bayangin aja kita pernah punya presiden wanita, sedangkan di Amerika, wanita putih aja ditolak. Mereka lebih memilih pria hitam.”
Pikiran aku terbayang pada kegiatan menjelang pemilihan presiden Amerika beberapa waktu lalu. Hillary dikalahkan oleh Obama. Gak terasa, kepala saya mengangguk. Tapi kuping segera saya pasang kembali. Hehehehe,,,
“Cuma di sini yang bisa menerima presiden wanita, bahkan presiden buta.Jadi nengara kita ini benar-benar negara yang progresif”
Sampai di sini, aku berkerut kening sejenak. Progresif maksudnya apa ya?dasar aku nie udah kuliah tapi ga tau artinya yaw ajar lah ku kuliah gambil jurusan penjaskes kerjaannya olahranga and terkadang dosen ku jarang masuk, padahal Ingin aku bertanya sama si neng cantik itu. Tapi nanti malah dia marah karena ketahuan nguping. Sudahlah, teruskan pasang kuping, kata ku dalam hati.
“Khan penduduk kita mayoritas muslim. Tapi Jumat kita gak libur. Libur kita ngikutin hari sekolah internasional. Coba lihat Bangladesh, Pakistan atau negara-negara Arab lainnya. Mereka libur Jumat dan Sabtu. Minggu mereka sekolah. Duh, gak kebayang deh klo aku Minggu kuliah, sementara anak-anak rohis ku di ….. (dia menyebutkan sebuah negara, saya lupa persisnya, entah Swedia, Finlandia, Norwegia atau apa) malah libur.”
Si wanita cantik meneruskan kalimatnya,”Iya, aku sebel banget kalau kita bentar-bentar libur, bentar-bentar libur. Pas masuk sekolah lagi, tugas sekolah aku numpuk lagi.”
Aduh neng cantik, untuk yang ini saya tak sepaham. aku senang libur banyak-banyak. Bahkan tanggalan merah sudah saya hafalkan sejak pertama menerima kalender di awal tahun.
Maaf, saya tak bisa melanjutkan nguping karena nama saya sudah dipanggil untuk diperiksa oleh dokter. Aku cumin bisa bilang bosan itu bukan karna menungu tapi karna kita ga bisa mafaatkan keadaan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar